MusicforlifeStylePINK LADY

PINK LADY

Tuesday, 12 April 2011 11:12

pink-ladyBerinteraksi dengan warna

Secara ilmiah, warna merupakan gelombang elektromagnetik yang menuju ke mata kita dan kemudian diterjemahkan oleh otak sebagai warna.
Dengan kata lain arti warna adalah juga sesuatu yang berhubungan dengan emosi manusia dan dapat menimbulkan pengaruh psikologis.
Warna dapat mengubah citarasa, mempengaruhi cara pandang kita, akan ruang , menutupi keketidaksempurnaan dan mewujudkan suasana atau kenyamanan yang unik untuk semua orang. Warna adalah cara yang paling pantas dan paling kuat menghadirkan transformasi dan melahirkan perspektif-perspektif baru. Warna adalah salah satu inspirasi paling berharga dunia yang paling mudah didapati.
Banyak manusia yang menghendaki hidupnya “lebih berwarna”.
Artinya manusia ingin mempunyai kehidupan yang beragam tidak itu-itu saja dan tidak membosankan (atau setidaknya istilah “lebih berwarna” adalah sekedar jargon-jargon advetorial belaka).

Manusia memang selalu ada-ada saja.
Tapi disitulah letak keindahannya. Selalu membuat apapun itu menjadi lebih dinamis. (baca: membuat masalah selalu menjadi rumit). Muncul lah klasifikasi warna yang disetiap warnanya mempunyai arti dan karakter masing-masing. Celakanya itu dianut dan menjadi panduan hidup (baca: sekali lagi disitulah letak keindahan dunia).
Pink sering diasosiasikan sebagai warna perempuan dan pria sering diasosiasikan sebagai wanita ketika beratribut pink. Maka untuk berkewanitaan warna pink adalah unsur penting yang tak bisa dipandang sebelah mata begitu saja.

Pink dan Kewanitaan: Tinjauan Sejarah

Warna pink tidak ditasbihkan menjadi warna yang feminis dalam budaya barat sampai akhir tahun 1940 -an. Cinderella dan Snow White memakai gaun biru karena warna biru merupakan warna yang feminim di beberapa dekade yang lampau. Pink merupakan varian warna merah dan dianggap maskulin diakhir tahun 1800-an dan di awal 1900-an. Nazi melambangkan pria-pria homoseksual dengan segitiga merah muda yang dikonsentrasikan di camp-camp khusus karena orientasinya terhadap sesama pria (dan secara budaya asosiasi warna maskulin tersebut masuk akal).

Secara gender, unsur genetik, biologis atau istilah kerennya “bawaan lahir”, warna tidak bisa diklaimkan. Hal ini sepenuhnya adalah persoalan budaya. Akan tetapi permasalahannya adalah dalam menjelaskan mengenai  perilaku manusia, ialah (tentu saja) biologi mengeraskan atau membekukan norma dan faktor-faktor sosial yang ada dan mengarahkannya sebagai sesuatu yang cenderung sebagai faktor bawaan (dengan dalih natural atau alami).
Sayangnya juga bahwa hal ini kemudian dapat menjadi sebuah pembenaran atas keberadaan rasisme, sexisme, homofobia dll. Pada akhirnya yang dibutuhkan adalah pemahaman sejarah untuk menyadari bahwa hubungan antara warna dan jenis kelamin adalah (secara ekstrim) konsep yang baru.

Pink Lady : Budaya Media

Trend warna.....
Kurang lebih mempunyai analogi seperti ini, “Pink adalah trend warna 2011, jadi jika hitam adalah warna favoritmu, maka pink adalah warna hitam mu yang baru”
Secara bahasa, trend bisa kita pahami sebagai sesuatu yang berlaku secara umum, sesuatu yang banyak dilakukan atau dirujuk oleh banyak orang. Untuk memberlakukan secara umum maka kemudian dibutuhkan perpanjangan tangan dari media. Sebagai contoh iklan kosmetik di televisi, yang mengeluarkan trend warna sebagai representasi suatu daerah yang terkenal, dengan pemandangan indah, eksotik  atau trend warna sebagai hasil dari pengkultusan atribut yang dipopulerkan oleh seorang artis yang terkenal.
Jadi kemudian tentu saja persoalan Pink Lady ini sudah terkontaminasi oleh settingan pasar untuk mencapai apa yang disebut profit dan keuntungan. Sayangnya, banyak orang yang tergiring oleh settingan pasar ini. Banyak orang yang kehilangan identitas diri. Terbawa trend buatan yang mereka ikuti untuk sebuah eksistensi bernama trendi, gaul, modis, up to date dsb. Sebuah perilaku yang menguatkan dan atau mencerminkan budaya pop (pop culture), sebuah budaya yang lahir hasil kerjasama yang ciamik antara antara pasar dengan media, sehingga lahirlah kelas dan kasta spesialisasi.


Representasi Pink Lady

Keberadaan Pink Lady dapat dihubungkan (setidaknya yang telah diketemukan dan published) dengan 4 hal. Yaitu;
1.   Seni dan Hiburan : Pink Lady (Band)-sebuah grup duo asal jepang beraliran pop di tahun 1980 an, Pink Lady sebuah lukisan wajah pada sebuah batu di Malibu, California, dll
2.   Makanan dan Obat-obatan: Pink Lady sebuah merek produk keripik makanan ringan, Pink Lady dalam formulasi cocktail untuk mengobati asam lambung.
3.   Politik: The Pink Lady, merupakan sebuah julukan yang diberikan kepada politisi Amerika, Helen Douglas (1900–1980) yang mempunyai andil dalam memerangi komunis.
4.   Transportasi: The Pink Lady-sebuah pesawat pem-bom, Ella's Pink Lady-sejenis kapal kecil/yacht yang digunakan pelaut asal Australia, Jessica Watson dalam mengelilingi dunia.

Dengan 4 point diatas sebagai bentuk nyata keberadaan pink lady, maka kita menemukan bahwa karakter Pink Lady mempunyai karakter yang unik. Perpaduan antara pop, lukisan (bukan di kanvas melainkan di batu) , kripik, obat penurun asam lambung (dalam bentuk cocktail), seorang politisi anti komunis, pesawat pembom dan kapal kecil yang telah mengarungi dunia. Apakah ada yang lebih unik??

Nah, dapat kita simpulkan bahwa Pink Lady bukan sekedar materi (berwujud atau tampilan penampilan), tapi Pink Lady juga merupakan sebuah energi (non-wujud). Energi yang super dinamis.

Related Articles
Related Articles:
HitsHits : 726
smaller text tool iconmedium text tool iconlarger text tool icon

Add comment


Security code
Refresh

New_Image

banner_magazine