MusicforlifeStyleMadonna, Lady Gaga atau Kartini saja?!

Madonna, Lady Gaga atau Kartini saja?!

Wednesday, 20 April 2011 09:23

madonnaPemaknaan akan wanita tidak hanya sekedar dipahami sebagai definisi wanita adalah perempuan dewasa.
Karena yang terjadi kemudian dalam masyarakat, pemahaman akan wanita akan ditambahi dengan unsur-unsur stereotip yang telah disepakati.
Stereotip perempuan yang paling umum adalah dimana seorang perempuan digambarkan berambut pirang, alis tebal dan lentik, gincu merona, dada besar , rok mini, sepatu berhak tinggi .
Meskipun istilah ini memiliki sejarah panjang yang bisa dilacak sampai tahun 1920an ,dalam kultur postmodern istilah ini mengandung konotasi buruk tertentu.
Postmodern hadir ketika modernisme itu dianggap gagal dan penuh dengan kesia-siaan.
Postmodern adalah belantara, belantara yang banyak terdapat aliran pemikiran tak terkira di dalamnya.
Kehadiran wanita sendiri di dalam kultur postmodern menjadi sangat kompleks.Terlebih ketika perempuan itu hadir di dalam media, rekonstruksi media yang mempunyai ketentuan hukum sendiri-sendiri (baca: seenak udelnya).

Majalah perempuan cenderung terbagi menjadi dua kategori yaitu, majalah yang berhubungan dengan menata rumah dan perawatan anak-anak , dan majalah yang bertujuan untuk menawarkan diri mencari jodoh laki-laki. Pembagian kategori ini merepresentasikan dualisme klasik pemikiran Barat dimana perempuan dikategorikan sebagai perempuan yang suci, keibuan, bersih dan rendah hati dan perempuan sebagai pelacur yang gampangan, tak bermoral, seksual penuh dosa.

Dalam beberapa kesempatan baik Madonna dan Lady Gaga menyatakan bahwa fashion merupakan inspirasi bagi lagu dan seni pertunjukkan. Dan untuk setiap aksi panggung, penyuguhan style fashion mereka banyak dipahami oleh sebagian besar masyarakat sebagai sesuatu yang tidak biasa, aneh dan sexy.
Sebuah tampilan yang lebih condong ke arah pemberontakan kepada tatanan fashion dan budaya yang sudah ada. Keduanya pun pernah dinobatkan menjadi fashion icon dunia. Lalu apakah bisa disebut bahwa Madonna dan Lady Gaga merupakan pelaku kultur postmodernis? Kenapa dengan tatanan sebelumnya? Jika postmodernis digadang-gadang sebagai bentuk ketidakpuasan akan era modernisme, lalu seperti apa sih  era modernisme itu? Apakah punya ruang waktu atau tahun berlangsungnya era itu?

Ketika postmodernisme hadir sebagai bentuk progressivitas dari modernisme, maka keduanya saling bertautan dan mempunyai kontinyuitas. Dapat kita sebut kemudian bahwa modernisme dan postmodernisme (ya.. benar itu sebuah masa atau era berlangsungnya sesuatu) akan tetapi kedua hal  tersebut tidak dapat disebut sebagai patokan sejarah.
Karena hal tersebut masih berlangsung dan nilai nya pun berubah-ubah seiring dengan perjalanan dialektikanya.
Hal ini juga sesuai dengan apa yang dikatakan Darwin tentang teori evolusi bahwa sesuatu akan terus berubah dengan melewati proses seleksi alam atau teorinya Plato tentang pembagian masa dalam sebuah negara yaitu masa membangun, masa kestabilan dan revolusi. Maka kita dapat pahami bahwa baik itu modernisme atau postmodernisme itu ada sejauh kita memandang ke belakang atau bahkan memandang ke depan.
lady_gaga
Madonna berpredikat sebagai Queen of Pop, yang merintis dan mencapai kejayaannya di tahun 80an. Tahun 80an merupakan era dimana musik rock lebih nge-pop dibanding musik pop itu sendiri. Bahwa nuansa rock kental dengan gemerlap kehidupan keartisan musisinya. Dengan perpaduan musik rock dan pop maka didapatkanlah Madonna. Musik pop dengan tampilan yang nyleneh, urakan dan vulgar. "Gaya berpakaian saya yang paling buruk adalah saat menggunakan lipstik warna ungu dan mengenakan sweater besar berwarna hijau menyala. Saat itu tahun 80an, dan bisa dikatakan juga sebagai era dengan tatanan rambut terburuk," kata Madonna (Female First).
Madonna juga mengungkapkan model pakaian yang 'aman' tidak terlalu menarik baginya. Ia menginginkan memiliki "fashion statement" sendiri yang berbeda dari yang lain. Untuk Lady Gaga sendiri mempunyai atittude yang hampir sama dengan Madonna. Bahkan sempat diberitakan bahwa ia adalah jiplakan dari Madonna. Muncul di tahun 2008 dengan menampilkan image artis yang heboh dalam seni berpakaian. Lady Gaga selalu menjadi pusat perhatian, baik dengan musiknya, maupun cara berpakaiannya. Hanya Lady Gaga yang bisa memakai celana dalam besar, petasan pakaian dalam dan bola disko sebagai pakaian.

Maka kita temukan bahwa keberadaan Madonna dan Lady Gaga bersama fashion atittude nya merupakan hasil dinamika zaman. Dinamika zaman yang selalu dituntut dan menuntut perubahan. Terlepas dari kepentingan bisnis kedua artis tersebut, yang ingin melanggengkan popularitasnya dengan cara pencitraan lewat gaya berbusananya, keberanian untuk keluar dari stigma perempuan yang telah ter-stereotip (seperti telah dipaparkan di atas) adalah sebuah bentuk perjuangan tersendiri yang harus dipahami untuk kita hargai.

Lalu bagaimana jika Madonna dan Lady Gaga bersanggul dan berkebaya seperti Kartini kita itu?  Dengan kata lain membawa perubahan dengan masih mengenakan “atribut resmi perempuan” atau masih tetap mempertahankan produk budaya yang sebelumnya sudah ada.  Telah dipaparkan di atas bahwa modernisme dan postmodernisme bukanlah peristiwa melainkan dinamika. Sehingga inti dari persoalan ini  bukan lah terletak pada materi atau produk budayanya. Karena pada akhirnya keberadaan ketiga sosok tersebut tak lain adalah representasi sebuah ide.

Yang ditawarkan baik itu Madonna, Lady Gaga dan Kartini pada dasarnya adalah sama, yaitu ENERGI PERUBAHAN

Related Articles
Related Articles:
HitsHits : 1188
smaller text tool iconmedium text tool iconlarger text tool icon

Add comment


Security code
Refresh

New_Image

banner_magazine