MusicforlifeMusical InsightVisualisasi Musik

Visualisasi Musik

Friday, 06 May 2011 15:09

unj_pekan_seniBagaimana jika musik itu seketika sunyi tak berbunyi?
Bagaimana jika musik itu tiba-tiba menampakkan wujudnya?
Ngeri bukan? :)


Mungkin ada istilah Theater of Mind.
Bahwa pikiran manusia itu bergejolak dengan media yang tanpa batas. Manusia mendengarkan bunyi sehingga ia melihat wujud dan melihat wujud sehingga ia mendengarkan bunyi walau katakanlah ia tuli.

Musik Rock sudah terbilang sebagai musik yang keras.
Keras dalam artian musik dengan tempo cepat, tabuhan drum dengan hentakan yang kuat, dengan gerakan strumming gitar yang cepat, dengan gerakan pemainnya yang aktif bergerak kesana kemari berambut gondrong dan berwarna dominan hitam, keras dengan menggunakan equipment-equipment tertentu.

Keras dalam musik adalah sesuatu dengan tempo yang cepat. Untuk melakukan musik dengan tempo cepat, kemudian mempunyai syarat-syaratnya sendiri. Maka seperti dipaparkan diatas bahwa keras adalah hentakan yang kuat, gerakan tangan yang cepat, aktif bergerak, berambut gondrong dan berwarna hitam.

Maka muncul pertanyaan bagaimana sesuatu itu dapat dibilang keras jika tak ada aktivitas meraba? Batu adalah benda keras. Keras karena pasti sakit dan dapat mengakibatkan kematian jika terkena kepala. Dalam beberapa insiden di Indonesia, aksi pelemparan batu mengakibatkan beberapa orang terluka dan ada juga yang meninggal dunia.. misalnya dalam bentrok supporter bola. Batu itu juga keras karena susah untuk digigit. Keras karena jika disentuh pori-pori kulit merasakan gesekan yang yang luar biasa-tidak biasa.

Musik berasosiasi sebagai sesuatu yang AUDIBLE atau sesuatu yang berbunyi dan tidak disebutkan atau berasosiasi  bahwa musik itu berwujud atau VISIBLE. Sangat ironis kemudian, jika musik rock dibilang keras ketika kita melihat bahwa seorang drummer memukulkan sticknya dengan sekuat tenaga, kita melihat seorang gitaris yang menggerakan pergelangan tangannya dengan cepat, kita melihat seorang penyanyi gondrong berbaju hitam berjingkrak-jingkrak.
Dan justru batu itu dibilang keras karena kita merasakan sakit jika terkena kepala, kita merasakan kasar dikulit, dan kita merasakan terlalu padat untuk digigit. Sesuatu yang dikatakan audible terdefinisi melalui wujud visual dan sesuatu yang visible terdefinisi melalui perasaan atau rasa.

Seperti apa yang tersaji beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 19-22 April dalam gelaran acara Pekan Seni Universitas Negeri Jakarta. Perpaduan antara seni rupa dan seni musik. Bagaimana musik divisualisasikan dengan pertunjukan theatrical. Seperti diutarakan Amy selaku ketua penyelenggara acara tersebut: “Bahwa aktivitas cabang seni apapun tak bisa lepas dari musik”.


Di lain sisi, kita bisa sebut ini adalah sesuatu yang kontemporer. Kontemporer dalam artian ketika musik-musik yang sering tampak seperti sekarang ini telah memuakkan telinga. Jadi sekalian saja musik tersebut hadir  diam-tanpa suara dan tanpa mengurangi estetika sebuah seni bahkan menambahi unsur estetika itu sendiri. Filosofinya, di dalam tanda diam itulah akan memunculkan suara terindah. Bayangkan bila musik tanpa tanda henti. Bayangkan bila yang “seperti itu” diulang-ulang di televisi, bahkan ketika siaran itu habis dan televisi pun masih menyala ......tuuuut..... tak ada habisnya.

Rumusnya, makin banyak rentetan nada tanpa henti. Semakin cepat telinga capek-semakin capek telinga, semakin stresslah hidup kita.  Padahal di dalam diamlah kita mengenal sebuah penciptaan ... mengalami sebuah kesaksian sejati. Inilah paripurna musik. Urusan keilmiahan matematis harmoni dan rasa sudah  terhenti disini.

Dan memang musik sejati adalah diam, hening, khusyuk.
Sebuah suara tanpa bunyi tapi ada. Suara yang tanpa harus mengikuti hukum aksi reaksi. Sebuah rasa tanpa perasaan.
Diam bukan berarti sunyi, bukankah diam itu juga ekspresi ???

Related Articles
Related Articles:
HitsHits : 719
smaller text tool iconmedium text tool iconlarger text tool icon

Add comment


Security code
Refresh

New_Image

banner_magazine