Cinta mempunyai porsi terbesar dalam penulisan sebuah lirik lagu.
Tercatat, setiap hampir kemunculan artis musik baru entah itu band, grup duet, kuartet, trio, solo dan sebagainya itu, selalu mengumandangkan cinta dalam lagunya.....
bisa kita saksikan di berbagai acara musik khususnya di televisi.
Di Indonesia sendiri hampir 90 % lagu bertemakan tentang cinta. Jika seniman-seniman di seluruh Indonesia menciptakan lebih dari 500 lagu setiap harinya (dari beberapa sumber di world wide web), kemudian dengan teknologi yang semakin canggih dimana memungkinkan seorang dapat merekam lagunya sendiri dan menyebarkannya sendiri, maka bisa dikatakan dalam setiap hari kita.... BANGSA INDONESIA.... terlalu sering bercinta .
Lalu, memangnya “ada apa dengan cinta?”
Nah.. itu pun sudah menjadi miliknya Melly Goeslaw, lalu apa yang menjadi milik kita?
Apakah memang benar kata John Lennon (The Beatles), “All You Need is Love”?
Maka persoalannya disini sebenarnya cukup sederhana, yaitu kita manusia belum mempunyai kesetaraan dalam memaknai cinta. Atau dalam versi yang lebih ekstrem lagi, manusia belum menemukan arti cinta.
Kita masih dalam pencarian. Mencari makna cinta minimal untuk diri kita sendiri. Ketika kita sudah merasa menemukan arti cinta. Maka yang ada itu hanya bersifat artifisial, dan akan berubah seiring dengan pengalaman hidup yang dilewati. Banyak orang berkata dan berpandangan bahwa ketika sudah saling mencinta mereka memutuskan untuk menikah. Jadi ketika mereka menikah berarti cinta itu mereka anggap sudah ketemu. Akan tetapi jika memang sudah merasa saling cinta, mengapa harus dibutuhkan yang namanya institusi pernikahan segala? Apakah karena mempunyai kekuatan hukum secara agama, sosial dan negara? Kalau memang begitu, bukankah pernikahan itu menjadi layaknya sebuah jaminan? Mereka takut kehilangan maka mereka menikah atau lebih parah lagi mereka sudah saling tidak percaya maka mereka membutuhkan jaminan hubungan yang lebih kuat. Jika memang begitu keadaannya, maka ketika pernikahan itu terjadi maka ruh cinta itu sebenarnya sudah musnah. Inti dari uraian di atas adalah bahwa selalu ada sanggahan yang tidak mengenakkan ketika kita merasa nyaman tentang pengertian cinta versi kita sendiri.
Dengan adanya ketimpangan tentang makna cinta inilah maka persoalan cinta ini menjadi semakin dinamis. Tapi alangkah malangnya cinta itu, karena mungkin sampai frustasinya mencari arti cinta, manusia atau katakanlah seniman memasukkan unsur-unsur kegilaan di dalamnya. Hal tersebut terjadi bahkan jauh sebelum periode-periode kultur pop seperti sekarang ini. Mulai dari operanya sheakspeare dengan romeo and juliet nya (baca: aku lebih baik mati jika tanpa cintamu), The Magic Flute yang mengkisahkan Mozart tentang keharusan untuk membunuh demi cinta sampai ke bentuk yang lebih “vulgar” lagi yaitu lirik lagu dari kebanyakan band-band saat ini yang sering menyuarakan kata “cinta gila”, “cinta itu gila”, “tergila-gila”, “gila karena cinta” “dll dsb”. Hal tersebut membuktikan bahwa pencarian cinta memang sudah ada di jaman sejauh kita memandang ke belakang.
Sebagai contoh lagi, lagu Arjuna Mencari Cinta milik Dewa 19.
Arjuna merupakan tokoh pewayangan pada jaman atau kisah ramayana dan mahabarata. Diwujudkan sebagai seorang kesatria yang bagus rupa dan mempunyai kuasa. Nah, kemudian ini menjadi sebuah kegilaan tersendiri lagi ketika Dewa 19 dalam lirik lagunya Arjuna Mencari Cinta, menggambarkan seorang arjuna yang harus terseok-seok mendaki gunung, menjelajahi isi bumi dan mengarungi samudera untuk menemukan cinta. Bagaimana seorang kesatria yang rupawan dan berkuasa harus sebegitu repotnya mencari dan menemukan cinta. Dan hal ini sekali lagi menegaskan bahwa manusia masih belum mempunyai kesetaraan makna akan cinta. Manusia terus mencari, bahkan dengan dalih nama maha agung estetika, kegilaan pun diselipkan di dalamnya
Dengan banyaknya seniman yang menulis lagu cinta, secara tidak sadar sebenarnya itu sebuah pencarian makna dan sebuah usaha untuk mensetarakan makna cinta.
Kita mungkin pesimis dengan apakah makna cinta itu kelak akan mencapai kesetaraan. Dan mungkin kita lebih cenderung optimis bahwa di hari-hari ke depan, tema lagu cinta masih akan tetap subur. Dengan keoptimisan itu, jadi apakah memang benar yang kita butuhkan itu cuma cinta?
Atau jangan-jangan di dunia ini yang ada cuma cinta?
Entahlah...... :)
- Related Articles
- Related Articles:
Twitter
Facebook




