MusicforlifeHot NewsGPMB 2011 : rutinitas tahunan yang luar biasa

GPMB 2011 : rutinitas tahunan yang luar biasa

Thursday, 29 December 2011 16:56

GPMB_1Ketika Marching Band dibilang 'segmented', (lebih dari itu) pada kenyataannya Marching Band ini bukan sesuatu yang segmented lagi tapi memang mempunyai industri sendiri. Bahwa semua unsur di dalamnya dari mulai tari, musik, drama dan kostum memang ditujukan ke pasar yang telah terbentuk. Pasar yang tergelar dalam acara-acara perlombaan. Dan Grand Prix Marching Band (GPMB) menjadi salah satu pasar terbesarnya. Digelar setiap tahun sekali, event ini menjadi kiblat grup Marching di seluruh negeri. Memasuki gelaran yang ke-27 di tahun 2011 ini, GPMB digelar di Istora Senayan, Jakarta pada tanggal 23-24 Desember. Dalam dunia marching, kualitas benar-benar menjadi 'harga mati' untuk berjaya di industrinya. Baik kualitas individu maupun secara tim. Hal tersebut tampak ketika sebuah tim sedang beraksi dan bagaimana sang juri dengan sangat jeli mengamati. Bahwa setiap gerak, suara dan tampilan memperoleh jatah sepasang mata dari juri. Maka latihan dan berbagai bentuk persiapan menjadi kunci utama dalam kesuksesan sebuah grup marching. Dimana dengan kata lain kesempurnaan dibayar dengan nilai tertinggi.

Berbicara mengenai persiapan, tak bisa dipungkiri hal tersebut menuntut keberadaan sarana dan prasarana yang menunjang. Predikat menunjang dalam hal ini tentu mempunyai level-level tertentu. Apakah sarana dan prasana yang kemudian istilahnya dipersingkat menjadi modal tersebut dapat menjamin sebuah grup marching band keluar sebagai juara. Karena perlu diketahui dana untuk mengikuti sebuah kejuaraan sekelas GPMB ini tak cukup diangka puluhan juta, akan tetapi ratusan juta bahkan milyaran.  Maka faktor sebesar apa modal yang dikucurkan, katakanlah bersinergi dengan sehebat apa pertunjukan dari sebuah tim marching itu dilangsungkan. Pendanaan dari segi teknis seperti gaji pelatih, materi lagu, kostum, alat musik, operasional keberangkatan, makan, minum, biaya hidup, tempat tinggal dan lain sebagainya. lisa_ketua_gpmb

Ketua Yayasan GPMB, Lisa Ayodia sendiri mengatakan; “Tidak menutup mata, tidak munafik bahwa faktor dana ini nomor satu”. Lisa menambahkan; “Kegiatan ini, satu unit ini ratusan juta”. “Nah bagaimana mendapatkannya? Ya kalau dia pinter, dapat bapak angkat kaya... kaya dan mau dan mengerti. Bisa masuk ke CSR perusahaan tho... daripada masukin ke panti asuhan ini, panti asuhan itu.. sebentar habis besok bolong lagi... jadi bisa berkelanjutan tho!”; tegas Lisa dengan sedikit canda.Permasalahan seputar akses mendapatkan dana sudah menjadi rahasia umum yang begitu mengemuka bahwa para peserta khususnya dari universitas-universitas dalam GPMB ini, walaupun secara  langsung maupun tak langsung mereka mewakili daerah atau propinsi masing-masing, akan tetapi support dari pemerintah daerah setempat dirasa sangat minim. Seperti diungkapkan Fajri, general manager dari tim marching band Universitas Negeri Yogyakarta bahwa tak ada bantuan dana dari pemda, mereka mencari dengan usaha sendiri. Kondisi tersebut kemudian sejalan dengan wacana yang ada tentang bagaimana pemerintah belum bisa menerima keberadaan marching band yang berkarakter modern. Ketika ditanya perihal tersebut Lisa berujar; “Pemerintah juga menghimbau sih kalau tradisional juga dimasukkan.” “Kalau kita tak bisa mengikuti perkembangan jaman.. kuper donk!”; tambah Lisa. Ada dua jenis Marching Band yaitu modern dan tradisional. Modern seperti apa yang tersaji di GPMB ini dan tradisional seperti yang kita saksikan dalam sebuah perayaan-perayaan tertentu dimana para penabuh drum, pemain brass, terompet, perkusi berbaris berjalan mengikuti aba-aba sang mayoret di depan. Dan ketika kita kembali berbicara tentang bagaimana aksi Marching yang ada di GPMB ini, antara musik, gerak-tari, dan kostum memunculkan sebuah kronologi cerita yang menarik untuk dicermati. Bahwa setiap tim membawa temanya  masing-masing. Dan apa yang berbeda di tahun ini tentang penyelenggaraan GPMB adalah diperkenankannya unsur musik elektronik masuk ke dalam marching band. Seperti penuturan Lisa berikut ini; “Tahun ini ada musik elektroniknya... lihat nanti Pupuk Kaltim main”. Maka keseluruhan marching band begitu sangat luar biasa disajikan dengan citra kemegahan yang dimilikinya baik dari dilihat segi teknisnya yaitu perpaduan beberapa cabang seni meliputi musik, drama dan tari kemudian dari segi non teknisnya tentang kebesaran nominal dana yang dibutuhkan. Selama dua hari penyelenggaraan, berbagai aktifitas marching terselenggara di Istora Senayan. Bukan hanya seputar perlombaan, akan tetapi terdapat juga acara  coaching clinic dan kompetisi rudiment belum lagi ditambah keberadaan eksebisi perlengkapan marching.

rudiment_challengeCoaching clinic dibawakan oleh Marco Harder yang telah berpengalaman di dunia per-marching-an internasional yang pada GPMB 2011 ini berperan menjadi ketua juri. Dalam coaching clinic tersebut Marco memberikan panduan tentang “How to get high effect score”. Dimana hal ini sebagai penanda betapa bertambah majunya dunia marching ini. Tentang  aspek  visual dan music effect di sebuah paket pertunjukkan marching. Akan tetapi secara keseluruhan Marco lebih menekankan ke aspek kolektifitas sebuah tim. Dan bukan hanya pembinaan secara teknis tetapi juga pembinaan secara psikologis. Bagaimana sejak dini, khsusnya bagi seorang pelatih harus memahami selera dan kemampuan seorang pemain marching untuk berada dalam posisi tertentu. Kompetisi Rudiment yang diselenggarakan oleh salah satu eksebitor dalam dua hari perhelatan GPMB ini berlangsung sangat meriah dengan antusiasme yang tinggi. Antusiasme yang bukan hanya dari penonton yang menyaksikannya, akan tetapi antusias dari peserta yang begitu serius mengikuti kompetisi ini. Kompetisi memukul snare drum ini dilangsungkan dengan mengharuskan peserta untuk dapat mengikuti tempo yang telah ditentukan penyelenggara. Yang kemudian para peserta melakukan tantangan ke pada peserta lainnya untuk tawar menawar menambah temp. Semakin tinggi tempo yang dapat ditaklukan, maka peserta tersebutlah yang keluar sebagai juara dan membawa pulang hadiah sebuah cymbal Sabian dari penyelenggara acara yang dalam hal ini adalah salah satu distributor alat musik di Indonesia yang bernama Bahanna Distributor.

Pada akhirnya menjadi sebuah gegap-gempita GPMB 2011 ini tercipta dengan 15 tim dari berbagai daerah di Indonesia tentunya. Yang meliputi: Drums Corps Pramuka UNHAS Makassar, MB Gema Nada Jagat Raya Jawa Tengah, MB Gema Bahana Winaya SMP Negeri 1 Kota Cirebon, MB Bahana Ambang SMA N 2 Kota Kotomabagu Sulawesi Utara, MB Istiqlal Jakarta, MB Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, MB Sangkakala Kutai Barat Kalimantan Timur, Drum Corps Universitas Muhammadiyah, Korps Putri Tarakanita Jakarta, Jember Marching Band Jawa Timur, MB Citra Derap Bahana Universitas Negeri Yogyakarta, MB Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, MB Bahana Cendana Kartika Riau, MB Universitas Udayana Denpasar Bali, dan MB Bontang Pupuk Kaltim Kalimantan Timur. Selama dua hari ke 15 tim mengeluarkan kemampuan terbaik dan menunjukkan kesempurnaan semaksimal mungkin dihadapan juri bersama kurang lebih 7000 pasang mata penonton. Dan 5 peringkat teratas dalam gelaran akbar tahunan GPMB XXVII Tahun 2011:
1. MB Bontang Pupuk Kaltim Kalimantan Timur dengan nilai 80,45
2. MB Bahana Cendana Kartika Riau dengan nilai 76,65
3. MB Universitas Udayana Denpasar Bali dengan nilai 71,75
4. MB Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dengan nilai 71, 25
5. MB Citra Derap Bahana Universitas Negeri Yogyakarta dengan nilai 67, 40

Related Articles
Related Articles:
HitsHits : 573
smaller text tool iconmedium text tool iconlarger text tool icon

Comments  

 
0 # osa arinta girivana 2012-01-21 13:40
GPMB terus menjadi suatu ajang yang paling spektakuler yaa di Indonesia.Marching Band is my life banget :)
Reply | Reply with quote | Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

New_Image

banner_magazine