MusicforlifeCulture CornerDHARMA GITA MAHA GURU

DHARMA GITA MAHA GURU

Monday, 10 October 2011 12:54

bung_karnoDHARMA GITA MAHA GURU, antara me-REKAM sejarah dan me-REKA sejarah

Menyaksikan pementasan Dharma Gita Maha Guru di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta (1/10), itu seperti membaca buku pelajaran sejarah yang sudah ter-kurikulum-kan. Kronologi babak demi babak perjalanan tokoh besar NKRI yaitu Ir. Soekarno, begitu gamblang ter-visualisasi-kan.

Ketika Bung Karno berujar “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!”, maka tampak inilah yang menjadi essensi utama dari dharma sang maha guru. Seorang guru besar yang menyampaikan ilmu lewat lagu, lewat satu paket pementasan teater. “Inilah Sejarahmu Bung!”, sepenggal kalimat tambahan dari Soekarno yang tampak benar-benar ingin ditunjukkan dalam pementasan ini. Sebuah penegasan yang ditampilkan lewat tari, drama, musik dan lagu. Dan menjadi sangat kuat, karena yang memproduseri drama musikal ini tak lain ialah sang puteri sendiri yaitu Rachmawati Soekarno Putri. Bahwa ada ungkapan yang menyebutkan jika “karakter seseorang akan lebih dipahami oleh orang-orang terdekatnya”.

Terlepas dari berbagai peran Rachmawati selama ini dalam mengembangkan ke-Soekarno-an di negeri ini, salah satunya lewat Yayasan Pendidikan Soekarno yang diketuainya, Dharma Gita Maha Guru berlangsung objektif. Dimana bukan hanya masa kejayaan Soekarno yang ditampilkan, akan tetapi juga masa kemuramannya dan masa kejatuhannya. Dan sekali lagi ini tentang sejarah, sejarah sang proklamator, sang putera fajar, presiden pertama di Republik ini, Bung Karno.dharma_gita_soekarno_maha_guru

Merekam Sejarah
Dari total 19 scene yang ditampilkan, terdapat 11 scene yang begitu akrab, minimal bagi seseorang yang berstatus rakyat Indonesia atau terlebih bagi seseorang yang pernah mengenyam pendidikan sekolah dari mulai era PSPB sampai Pendidikan Sejarah. 11 scene tersebut ialah Adegan Invasi Bangsa Portugis, Amanat Penderitaan Rakyat, Marhaenisme, Sumpah Pemuda, Indonesia Menggugat, Invasi Tentara Jepang-Lahirnya Pancasila-Proklamasi, Sepuluh November-Pemberontakan Madiun, Konferensi Asia-Afrika, Partai-partai Dekrit, Trikora dan GESTOK (Gerakan Satu Oktober).

Dominasi 11 scene tersebut sangat terasa dengan perubahan set panggung yang begitu ekstrem sebagai penanda pergantian masa. Di kesebelas scene inilah Soekarno ditampakkan begitu eksplisit di depan ratus pasang mata yang menyaksikannya di ruang teater yang lega. Persetubuhan antara ideologi dan peristiwa begitu intim di hadirkan bagi para penonton.

Rentetan peristiwa yang diantaranya masih marak diperingati bangsa ini seperti Sumpah Pemuda, Proklamasi, Sepuluh November dan Gerakan Satu Oktober. Maka  kemudian kesebelas scene yang mendominasi ini justru menjadi scene yang baku. Bahwa adegan-adegan dalam kesebelas scene tersebut menjadi harga mati yang tak bisa ditawar lagi.
kadir_tarzan
Me-reka Sejarah
Me-reka sejarah atau dalam hal ini sebagai sebuah bentuk penyajian kembali atas suatu peristiwa tentu memuat berbagai macam distorsi. Distorsi atas dasar penyesuaian zaman. Dan ketika pementasan Dharma Gita Maha Guru ini bersifat komersial, maka menjadi sesuatu yang sangat lumrah. Akan tetapi bukan hal tersebut yang menjadi faktor utamanya. Dihadapan seni semua dapat tenggelam dalam lautan misteri. Bahwa apapun bisa terjadi dihadapan seni dan dalam hal ini penyikapan akan sebuah sejarah tersebut akan menemui dinamikanya atau dalam level tertentu menjadi multi tafsir.

Seni drama, tari dan lagu yang membalutnya, seakan menjadi bingkai penglihatan sehingga memunculkan ekspresi-ekspresi tersendiri. Bahwa kemudian disini ada dramatisasi. Hal tersebut tampak pada 8 scene di luar 11 scene utamanya. Yaitu pada scene pembuka ; Gunungan – Bendera Dwi Warna, Sekapur Sirih-Kejayaan Kerajaan Kalingga/Ratu Shima-Kejayaan Majapahit/Gadjah Mada, Sendra Tari Ramayana, Ritus Kelahiran Soekarno, H.O.S Cokroaminoto dan Bung Karno, Bung Karno bertemu Fatmawati, Wafatnya Maha Guru dan Gunungan sebagai penutup.

Kemunculan parodi yang dihadirkan lewat komedian Tarzan dan Kadir yang berperan menjadi opportunnis mengandung distorsi pula sebagai bingkai hiburan. Kehadirannya menjadi sebuah refleksi kondisi lampau untuk dihadirkan di masa sekarang. Bagaimana dua tokoh komedian ini menjadi pengikut siapa saja yang sedang berkuasa, kemudian memberi opini-opini konyol sehingga dapat teraplikasi di kondisi bangsa saat ini.

Theme Song yang dihadirkan dalam pementasan ini ialah Cerita Cinta (Kahitna-ciptaan Yovie Widianto), Kala Cinta Menggoda (Alm. Chrisye-ciptaan, Guruh Soekarno Putra) dan Nirmala (Siti Nurhaliza). Ketiga lagi ini juga menjadi distorsi disaat adegan romantisme antara Soekarno dan Fatmawati. Image keras seorang Soekarno sebagai seorang pemimpin bangsa luntur dalam adegan ini. Bagaimana seorang Soekarno yang malu-malu mendekati Fatmawati di pertemuan kali pertamanya.Distorsi-distorsi semacam tersebut diatas lah yang kemudian secara tak sadar memunculkan predikat pe-reka-an sejarah.

Pementasan yang disutradarai oleh Maman S. Tegeg ini tampak menjadi sebuah suguhan teater populer. Populer dari kontennya yang sangat sederhana dan visualisasi mengenai ide lewat gerak, seni peran, tari dan lagu pun sangat jelas dengan dialog yang terbilang naratif-deskriptif untuk ukuran teater yang mengangkat seorang filsuf, seorang pemikir, seorang  revolusion.

Related Articles
Related Articles:
HitsHits : 502
smaller text tool iconmedium text tool iconlarger text tool icon

Add comment


Security code
Refresh

New_Image

banner_magazine