Kehadiran ANTIFLAG di Indonesia dalam pagelaran konsernya memang tak terlalu terdengar kabar beritanya. Hal tersebut cukup mengejutkan mengingat eksistensi band punk asal Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika ini sudah ada semenjak di tahun 1988. Di kalangan pecinta musik punk di seluruh dunia· Antiflag begitu populer dengan citra straight edge nya, akan tetapi justru kemudian disinyalir citra straight edge tersebutlah yang mensegmentasikan keberadaan Antiflag, yang pada akhirnya membuat konsernya di Parkir Kolam Renang Senayan, Jakarta (31/01), tak begitu ramai dikunjungi. Bukan tanpa alasan karena citra tersebut yang kemudian membuat kultur band ini semakin mengarah ke mainstream. Tampak dalam konser tersebut, musik yang tersaji lebih terdengar melodic walau dengan lirik yang apatis terhadap pemerintah dan kebijakan-kebijakan nya. Ditambah tampilan yang terbilang rapi untuk berada di dunia punk.
Straight edge merupakan sebuah gaya hidup yang diasosiasikan pada komunitas punk maupun hardcore, yang anti terhadap hal-hal seperti alkohol, rokok, obat-obatan dan gaya-gaya hidup hedonis. Dengan kondisi seperti itu, maka bisa dipahami jika kemudian keberadaan band ini memang mempunyai massanya sendiri. Walaupun kita semua tahu bahwa keberadaan punk di Indonesia ini sangat kuat dan banyak seiring sebagai manifestasi dari ketimpangan sosial yang ada. Pengikut aliran punk sudah pasti hampir seluruhnya adalah para anak muda. Kemudian sudah menjadi rahasia umum bagaimana dinamika anak muda pada zaman sekarang ini. Dimana tak pernah lepas dari yang namanya rokok dan alkohol sebagai salah satu ekspresi kebebasan. Sehingga hal ini menjadi benturan budaya (clash-culture) tersendiri ketika Anti flag dihadirkan pada budaya punk sebagai budaya anak muda di Indonesia. Bahwa keberadaan Anti Flag ini memang kurang 'teramini' dengan situasi di negara ini meskipun ketenaran yang dimiliki sudah meluas di berbagai penjuru dunia. Mungkin pemaparan tersebut berada jauh dari benak pemikiran kita karena secara pragmatis dan akan lebih mudah jika minimnya jumlah antusias yang ada di konser Antiflag dimana hanya tampak di kurang lebih 1000 an penonton , kita asumsikan sebagai kurangnya promosi yang dilancarkan oleh penyelenggara, yaitu dalam hal ini adalah Nu Prima Production.
Mengacu pada konser The Casualties yang belum lama ini telah terselenggara di Jakarta, dimana hanya dengan promosi yang seadanya, namun dapat menyita baik kuantitas maupun kualitas antusiasme yang luar biasa. Akan tetapi ini menjadi sebuah nilai lebih bagi Nu Prima Production sendiri. Karena Nu Prima memberikan pemahaman baru tentang dunia punk dengan menghadirkan Anti Flag ini. Bukan hanya itu saja, Nu Prima juga memberikan nilai lebih bagi sebuah penyelenggaraan konser kelas dunia dengan menampilkan band-band lokal yang kurang tenar sebagai band pembuka nya. Dan secara tak sadar ini menjadi sebuah bentuk kepedulian. Acaranya sendiri berlangsung begitu lancar. Dimulai pukul 7 dan selesai pukul setengah sebelas, Justin Sane [lead vocals, lead guitar], Chris [lead vocals, bass guitar], Chris Head [rhythm guitar, backing vocals], dan Pat Thetic [drums, percussion] membawakan 19 buah lagu. Diantaranya "The Press Corpse", "Turncoat", "Mind the G.A.T.T.", "911 for Peace", "That's Youth", "Police Story", "Sodom, Gomorrah, Washington D.C. (Sheep in Shepherd's Clothing)", "The Economy Is Suffering...Let It Die", "War Sucks, Let's Party!", "Hymn for the Dead", "This Is the End (For You My Friend)", "Cities Burn", "Stars and Stripes", "The Smartest Bomb", "1 Trillion Dollar$**" , "You've Got to Die for the Government" dan salah satu hitnya di album terbarunya yaitu "1915". Bukan hanya Anti Flag yang menyuguhkan musik dan aksi panggung yang agresif, tetapi juga dua band pembukanya yaitu Rethoric States dan Quick n' Easy.
#gallery of ANTIFLAG Live in Jakarta 2012
- ANTIFLAG Live in Jakarta
ANTIFLAG : Di balik minimnya jumlah penonton
Friday, 03 February 2012 00:00
Twitter
Facebook




