MusicforlifeCulture Corner

Culture Corner

Wednesday, 23 November 2011 17:54
Print PDF

urban fest 2011Lewat jalur kebudayaan, gairah perjuangan ter refleksi jelas di gelaran Urban Fest 2011, Pasar Seni Ancol, Jakarta (19/11). Perjuangan dalam bentuk menuangkan isi kepala kedalam suatu karya dengan niatan komersial ataupun non-komersial.
Selayang pandang adanya event URBAN FEST ini menjadi ajang clash-culture atau benturan kebudayaan yang dihadirkan bagi masyarakat perkotaan.

Maka istilah urban menjadi faktor utama dalam hal ini. Bagaimana istilah urban dapat dikondisikan menjadi sebab sekaligus juga akibat. Urban sebagai kondisi yang sudah ada dan urban yang membuat kondisi tersebut. Dan kondisinya adalah beraneka aktifitas budaya itu ada dari segala usia, materi dan rujukan history nya. Selanjutnya semua berada didalam satu antusiasme yaitu antusiasme dari anak-anak muda.

Ketika wayang disajikan dalam perhelatan ini, tampak bagaimana ini menjadi sebuah usaha yang dapat dibilang revolusioner. Revolusioner karena ini adalah sebuah perjuangan budaya yang sangat nyata ditengah dominasi budaya popular yang ada.

Secara gerilya, pertunjukan wayang ini dilangsungkan. Militan mencuri waktu disela-sela menuju pertunjukan utama dan tepat diselenggarakan di depan panggung pertunjukan utama. Tidak hanya itu saja, pertunjukan wayang ini dikemas secara modern lewat visualitasnya. Geber atau bentangan kain putih yang biasa digunakan sebagai latar dalam pertunjukan wayang, dilukisi ornamen-ornamen yang berwarna-warni.

 
Monday, 10 October 2011 12:54
Print PDF

kadir tarzan on dharma gitaDHARMA GITA MAHA GURU, antara me-REKAM sejarah dan me-REKA sejarah

Menyaksikan pementasan Dharma Gita Maha Guru di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta (1/10), itu seperti membaca buku pelajaran sejarah yang sudah ter-kurikulum-kan. Kronologi babak demi babak perjalanan tokoh besar NKRI yaitu Ir. Soekarno, begitu gamblang ter-visualisasi-kan.

Ketika Bung Karno berujar “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!”, maka tampak inilah yang menjadi essensi utama dari dharma sang maha guru. Seorang guru besar yang menyampaikan ilmu lewat lagu, lewat satu paket pementasan teater. “Inilah Sejarahmu Bung!”, sepenggal kalimat tambahan dari Soekarno yang tampak benar-benar ingin ditunjukkan dalam pementasan ini. Sebuah penegasan yang ditampilkan lewat tari, drama, musik dan lagu. Dan menjadi sangat kuat, karena yang memproduseri drama musikal ini tak lain ialah sang puteri sendiri yaitu Rachmawati Soekarno Putri. Bahwa ada ungkapan yang menyebutkan jika “karakter seseorang akan lebih dipahami oleh orang-orang terdekatnya”. Terlepas dari berbagai peran Rachmawati selama ini dalam mengembangkan ke-Soekarno-an di negeri ini, salah satunya lewat Yayasan Pendidikan Soekarno yang diketuainya, Dharma Gita Maha Guru berlangsung objektif. Dimana bukan hanya masa kejayaan Soekarno yang ditampilkan, akan tetapi juga masa kemuramannya dan masa kejatuhannya. Dan sekali lagi ini tentang sejarah, sejarah sang proklamator, sang putera fajar, presiden pertama di Republik ini, Bung Karno.

 
Thursday, 15 September 2011 13:10
Print PDF

dharmagita“Tidak hanya sebagai tontonan, akan tetapi diharapkan dapat menjadi sebuah tuntunan”. Begitu pernyataan Rachmawati Soekarno Putri dalam jumpa pers acara Dharma Gita Maha Guru di aula kampus Universitas Bung Karno,  Cikini, Jakarta Pusat (12/9).

Dharma Gita Maha Guru adalah teater musikal yang mengkisahkan tentang perjalanan hidup Bung Karno.“Kami ingin membuat suatu pagelaran yang menceritakan pejalanan hidup Bung Karno dari lahir hingga wafatnya," ujar Rachmawati dalam jumpa pers tersebut.

Rachmawati Soekarnoputri sendiri dalam pementasan ini bertindak sebagai produser dan tercatat sebagai ketua Yayasan Pendidikan Bung Karno yang mana dalam teater musikal tersebut merupakan pihak penyelenggaranya.

 
Monday, 11 July 2011 11:00
Print PDF

ciliwung larung“Ciliwung Larung adalah ekspresi seni budaya”, begitu potongan kalimat pembuka salah satu MC dalam gelaran acara “Pementasan Budaya Teater Musikal Ciliwung Merdeka” di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta (5/07).
Dalam pemaparan yang lebih lengkap lagi, Ciliwung Larung adalah ekspresi seni dan budaya kerinduan kolektif dan aspirasi jiwa otentik komunitas-komunitas warga pinggiran bantaran kali Ciliwung dalam wujud pagelaran sinergis pementasan teater, musik, tari, tulisan/sastra, film dokumenter dan pendidikan alternatif-kreatif, yang diciptakan dan dimainkan oleh sekitar 75 anak-anak, remaja dan warga Bukit Duri dan Kampung Pulo.

 
Friday, 03 June 2011 18:11
Print PDF

nicholas stavy Erasmus Huis, Jakarta (29/05)

Secara natural penonton mulai berangsur-angsur menuju diam. Lirih dan semakin lirih hanya dalam hitungan detik sebelum akhirnya anounncer memberikan narasi selamat datang.  Suasana ruang pertunjukan mengharuskan penonton untuk “berbudaya”. “Harap mematikan telepon selular anda”, “Dilarang makan dan minum”, dan “Tidak diperkenankan mengambil foto selama acara berlangsung”. Dan dari balik tirai muncul sang pianis dengan tanpa kata, menyampaikan bentuk   penghormatannya. Resital piano bersama Nicolas Stavy secara alami   resmi dimulai. Repertoir romantisme eropa abad ke-19  pun tersaji.  Sajian ini bertepatan dengan 200 tahun kelahiran Franz Liszt, seorang komposer, pianis, konduktor sekaligus guru asal Hungaria yang telah menjadi inspirator musik klasik sepanjang masa.

 
Tuesday, 31 May 2011 16:47
Print PDF

beta malukuAle Rasa.. Beta Rasa..
Rangkaian dua frase kata tersebut  yang kemudian menjadi idola dalam acara “Konser Cinta Beta Maluku, Nyanyian Damai untuk indonesia” pada tanggal 28 Mei 2011 bertempat di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.
“Apa yang kau rasa, Aku rasakan juga”.
Begitulah energi dari rangkaian kedua frase kata tersebut dan Butet Kertarajasa lah yang berkesempatan untuk paling pertama menyampaikan energi tersebut kepada kurang lebih 700 penonton yang memadati ruang pertunjukan.
“Ale Rasa.. Beta Rasa”.. begitu sapa Butet dengan logat Jawa nya.
Butet yang dalam keseluruhan acara berperan sebagai tim kreatif bersama Jaduk Ferianto, Glen Freddly dan Agus Noor, menambahkan dengan teriakan “Katong samua Barsodara!” tentu dengan aksen medok Malukunya.

 
Friday, 27 May 2011 09:16
Print PDF

ismail marzukiLebih akrab dipanggil Bang Maing, komposer di era 45 ini memandang jauh ke depan dengan karyanya yang melampaui batas cakrawala estetika. Bahwa karya yang dihasilkannya tidak hanya sekedar sebuah sajian musikalitas yang kental akan aroma karya sastra angkatan 45 tapi juga karya yang monumental tetapi mempunyai essensi di masa depan.
Hal tersebut yang kemudian ditunjukkan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Selasa (24/05/2011) dalam sebuah acara yang bernama “Pagelaran Musik Karya Ismail Marzuki”. Sebagai bentuk apresiasi karya sekaligus memperingati tepat 53 tahun wafatnya Ismail Marzuki, Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Pusat menyelenggarakannya dengan menggaet Orkes Symphoni Institut Kesenian Jakarta.

 
Wednesday, 25 May 2011 20:22
Print PDF

belle du berryTak terlalu riuh dan bisa dibilang tenang, penonton bertepuk tangan menyambut sang artis datang.
“Bonzoir”, begitu sapa Belle.... pelan.  Sebagian penonton pun menjawab, “Bonzoir” dan ada pula yang menjawab “Selamat Malam”. Seketika  Belle berkata “Terima Kasih” dan seketika itu pula penonton mengapresiasinya dengan tepuk tangan. Muncul berbusana long dress santai dengan motif retro, Belle membuka dengan tembang “Anemiques”. 14 lagu dibawakan Belle dan David malam itu dengan diiringi oleh Remy Kaprielan (drum) dan Denis Henault  (bass and drum).

 
Friday, 29 April 2011 11:45
Print PDF

hb-yasin

Musik itu dapat digunakan untuk mendekatkan sastra terhadap masyarakatnya.
Karena kita tahu sastra itu menggali pengalaman-pengalaman subtil manusia, pengalaman kehidupan manusia yang digali secara intensif oleh sastrawan namun kita tahu bahwa sekarang-sekarang ini sastra kurang dibaca.
Karena itu harus dihantarkan oleh sarana musik.

 
Tuesday, 26 April 2011 17:21
Print PDF

bondanYang menarik adalah bahwa kroncong itu pertama kali berkembang dalam fenomena meng-indonesia yaitu kala dibawa ke pusat-pusat masyarakat urban di kota-kota besar lewat radio dan piringan hitam pada awal abad ke-20. Awal tahun 1980-an, seiring dengan turunnya popularitas dangdut, ada realita baru yang justru membuat bentuk-bentuk kroncong ataupun yang berkaitan dengan kroncong terangkat.
Masa-masa tersebut tampaknya terulang kembali. Akan tetapi dengan media yang berbeda .
Bukan media pada umumnya  seperti radio, televisi, surat kabar melainkan dengan media kreatifitas.
Bahwa musik keroncong dipadukan dengan jenis musik lain.

 
Thursday, 07 April 2011 14:32
Print PDF

dwiki"Saya bermain musik dan mengajak masyarakat untuk berpikir”. Bagi Dwiki seorang yang sebenarnya menyukai kopi ini, untuk bermain musik banyak-banyaklah menggunakan hati

 

New_Image

banner_magazine