DHARMA GITA MAHA GURU, antara me-REKAM sejarah dan me-REKA sejarah
Menyaksikan pementasan Dharma Gita Maha Guru di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta (1/10), itu seperti membaca buku pelajaran sejarah yang sudah ter-kurikulum-kan. Kronologi babak demi babak perjalanan tokoh besar NKRI yaitu Ir. Soekarno, begitu gamblang ter-visualisasi-kan.
Ketika Bung Karno berujar “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!”, maka tampak inilah yang menjadi essensi utama dari dharma sang maha guru. Seorang guru besar yang menyampaikan ilmu lewat lagu, lewat satu paket pementasan teater. “Inilah Sejarahmu Bung!”, sepenggal kalimat tambahan dari Soekarno yang tampak benar-benar ingin ditunjukkan dalam pementasan ini. Sebuah penegasan yang ditampilkan lewat tari, drama, musik dan lagu. Dan menjadi sangat kuat, karena yang memproduseri drama musikal ini tak lain ialah sang puteri sendiri yaitu Rachmawati Soekarno Putri. Bahwa ada ungkapan yang menyebutkan jika “karakter seseorang akan lebih dipahami oleh orang-orang terdekatnya”. Terlepas dari berbagai peran Rachmawati selama ini dalam mengembangkan ke-Soekarno-an di negeri ini, salah satunya lewat Yayasan Pendidikan Soekarno yang diketuainya, Dharma Gita Maha Guru berlangsung objektif. Dimana bukan hanya masa kejayaan Soekarno yang ditampilkan, akan tetapi juga masa kemuramannya dan masa kejatuhannya. Dan sekali lagi ini tentang sejarah, sejarah sang proklamator, sang putera fajar, presiden pertama di Republik ini, Bung Karno.